wibiya widget
Maret 31, 2012
5 Fakta Mengagumkan Tentang ADZAN
Adzan adalah media luar biasa untuk mengumandangkan tauhid terhadap yang Maha Kuasa dan risalah (kenabian) Nabi Muhammad saw. Adzan juga merupakan panggilan shalat kepada umat Islam, yang terus bergema di seluruh dunia lima kali setiap hari.
Betapa mengagumkan suara adzan itu, dan bagi umat Islam di seluruh dunia, adzan merupakan sebuah fakta yang telah mapan. Indonesia misalnya, sebagai sebuah negara terdiri dari ribuan pulau dan dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
1 . Kalimat Penyeru Yang Mengandung "Kekuatan Supranatural"
Ketika azan berkumandang, kaum yang bukan sekedar muslim, tetapi juga beriman, bergegas meninggalkan seluruh aktivitas duniawi dan bersegera menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah. Simpul-simpul kesadaran psiko-religius dalam otak mereka mendadak bergetar hebat, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran seorang hamba (abdi) mereka bersimpuh, luruh dalam kesyahduan ibadah shalat berjamaah.
2. Asal Mula Yang Menakjubkan:
Pada jaman dulu, Rasulullah Saw. kebingungan untuk menyampaikan saat waktu shalat tiba kepada seluruh umatnya. Maka dicarilah berbagai cara. Ada yang mengusulkan untuk mengibarkan bendera pas waktu shalat itu tiba, ada yang usul untuk menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan bahkan membunyikan lonceng. Tetapi semuanya dianggap kurang pas dan kurang cocok. Adalah Abdullah bin Zaid yang bermimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan adzan dengan menyerukan lafaz-lafaz adzan yang sudah kita ketahui sekarang. Mimpi itu disampaikan Abdullah bin Zaid kepada Rasulullah Saw. Umar bin Khathab yang sedang berada di rumah mendengar suara itu. Ia langsung keluar sambil menarik jubahnya dan berkata: ”Demi Tuhan Yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi). Lalu Rasulullah bersabda: ”Segala puji bagimu.” yang kemudian Rasulullah menyetujuinya untuk menggunakan lafaz-lafaz adzan itu untuk menyerukan panggilan shalat.
3. Adzan Senantiasa Ada Saat Peristiwa2 Penting:
Adzan Digunakan islam untuk memanggil Umat untuk Melaksanakan shalat. Selain itu adzan juga dikumandangkan disaat-saat Penting. Ketika lahirnya seorang Bayi, ketika Peristiwa besar .
Peristiwa besar yang dimaksud adalah - Fathu Makah : Pembebasan Mekkah merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah. Lalu Bilal Mengumandangkan Adzan Diatas Ka'bah - Perebutan kekuasaan Konstatinopel : Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Ottoman, mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur. lalu beberapa perajurit ottoman masuk kedalam Ramapsan terbesar Mereka Sofia..lalu mengumandangkan adzan disana sebagai tanda kemenagan meraka.
4. Adzan Sudah Miliyaran kali Dikumandangkan:
Sejak pertama dikumandangkan sampai saat ini mungkin sudah sekitar 1500 tahunan lebih adzan dikumandangkan. Anggaplah setahun 356 hari . berarti 1500 tahun X 356 hari= 534000 dan kalikan kembali dengan jumlah umat islam yang terus bertambah tiap tahunnya. Kita anggap umat islam saat ini sekitar 2 miliyar orang dengan persentase 2 milyar umat dengan 2 juta muadzin saja. Hasilnya = 534.000 x 2.000.000 = 1.068.000.000.000 dikalikan 5 = 5.340.000.000.000
5. Adzan Ternyata Tidak Pernah Berhenti Berkumandang
Proses itu terus berlangsung dan bergerak ke arah barat kepulauan Indonesia. Perbedaan waktu antara timur dan barat pulau-pulau di Indonesia adalah satu jam. Oleh karena itu, satu jam setelah adzan selesai di Sulawesi, maka adzan segera bergema di Jakarta, disusul pula sumatra. Dan adzan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka adzan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu adzan berakhir di Bangladesh, maka ia ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India. Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, (Dawn) adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak. Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan shalat dikumandangkan. Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan Adzan sehingga terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika.
Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam. Sebelum Adzan mencapai pantai Atlantik, kumandang adzan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan sebelum mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Dan begitu adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira satu setengah jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul. Dan tidak lama setelah waktu Maghrib mencapai Sumatera, maka waktu adzan Isya telah dimulai di Sulawesi! Bila Muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Fajar, maka muadzin di Afrika mengumandangkan adzan untuk Isya.
Maa syaa Allah Laa quwwata Illa Billaah
Sumber = eramuslim.com
sukasukasayagan.blogspot.com
Inilah Sebabnya Mengapa Malam Lailatul Qodar Lebih Baik dari 1000 Bulan
Dalam Islam kita mengenal adanya 4 bulan suci, yaitu Dzulka’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ramadhan yang berarti panas pun tidak termasuk sebagai bulan suci. Mengapa Ramadhan dipilih untuk puasa sebulan penuh?
Dalam ilmu astronomi, Radiasi Matahari memiliki siklus 11 tahunan. Tahun 2007 sendiri merupakan akhir dari siklus ke 23 sejak pengamatan pertama pada abad 18. Bumi dilindungi Magnestosphere, sehingga dampak badai radiasi bukan terjadi pada sisi bumi yang menghadap matahari (siang hari). Saat badai radiasi matahari datang, dampaknya terasa pada bagian bumi yang membelakangi matahari (malam hari).
Radiasi di malam hari mempengaruhi tingkat getaran otak.
Radiasi dan gravitasi bulan purnama meningkatkan permukaan air laut dan kehidupan makhluk laut di malam hari. Juga menarik air dalam membran otak dan lebih menggetarkan sel-sel otak. Getaran sel otak menggambarkan tingkat kesadaran dan aktivitas otak.
Mengarah pada hipotesa malam Lailatul Qadar Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS Al Qadr 97:3)
Building Block …
1. Siklus satu tahunan (hijriyah) bernilai 1000 x bulan purnama
2. Malam yang nilainya 1000 bulan purnama adalah Lailatul Qadr
3. Lailatul Qadr terjadi di bulan Ramadhan
4. Jadi siklus badai matahari yang berulang setiap satu tahunan (hijriyah) terjadi setiap bulan Ramadhan
Itulah sebabnya…
1. Sejarah para nabi menunjukkan bahwa mereka senang merenungkan hakekat kehidupan, bertapa, pada setiap bulan Ramadhan.
2. Secara umum wahyu-wahyu tentang ajaran agama yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi, banyak yang diturunkan di malam-malam bulan Ramadhan.
3. Penataan ayat-ayat Al Quran ke dalam surat-surat seperti yang tersaji saat ini, dilakukan Nabi Muhammad pada malam-malam bulan Ramadhan.
4. Umat muslim diajak untuk menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan
5. Lebih utama adalah i’tiqaf di masjid pada 10 malam terakhir, pada malam-malam sebelum dan setelah Lailatul Qadr
HAL HAL DARI LINGUKNGAN YANG DAPAT MERUBAH SIFAT SEORANG ANAK
Hal-Hal Dari Lingkungan Yang Dapat Merubah Sifat Seorang Anak
Jika Anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan
Jika Anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menentang
Jika Anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa cemas
Jika Anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya
Jika Anak dikelilingi olok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu
Jika Anak diitari rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah
Jika Anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar
Jika Anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri
Jika Anak banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai
Jika Anak diterima oleh lingkungannya, ia akan terbiasa menyayangi
Jika Anak tidak banyak dipersalahkan, ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri
Jika Anak mendapatkan pengakuan dari kiri kanan, ia akan terbiasa menetapkan arah langkahnya
Jika Anak diperlakukan jujur, ia akan terbiasa melhat kebenaran
Jika Anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan terbiasa melihat keadilan
Jika Anak mengenyam rasa aman, ia akan terbiasa mengandalkan diri dan mempercayai orang sekitarnya
Jika Anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian
“sungguh indah dunia ini !”
...... Bagaimana dengan anak anda?
(Doroty Low Nolte, Children Learn What They Live With)
Maret 29, 2012
NARRATIVE TEXT
Narrative text
Narrative text is a kind of text to retell the story that past tense. The purpose of the text is to entertain or to amuse the readers or listeners about the story.
1. The generic structure of Narrative text :
a. Orientation :
It set the scene and introduce the participants (it answers the question : who, when, what, and where).
b. Complication :
Tells the problems of the story and how the main characters solve them.
c. Resolution :
The crisis is revolved, for better or worse.
d. Re-orientation :
The ending of the story.
e. Evaluation :
The stepping back to evaluate the story or the moral message of the story
2. Linguistic features :
1. Use active verbs.
2. Use past tense.
3. Use conjunction.
4. The first person (I or We) or the third person (He, She, or They).
5. Use specific nouns.
6. Use adjective and adverbs
3. Kind of Narrative text :
1. Legend : Sangkuriang, Malin Kundang, etc.
2. Fable : Mousedeer and crocodile.
3. Fairy tale : Cinderella, Snow white, Pinocchio, etc.
4. Science fiction
Example of Narrative text :
The Legend of Rawa Pening
Once upon a time, there was a little poor boy came into a little village. He was very hungry and weak. He knocked at every door and asked for some food, but nobody cared about him. Nobody wanted to help the little boy.
Finally, a generous woman helped him. She gave him shelter and a meal. When the boy wanted to leave, this old woman gave him a “lesung”, a big wooden mortar for pounding rice. She reminded him, “please remember, if there is a flood you must save yourself. Use this “lesung” as a boat”. The “lesung” was happy and thanked the old woman.The little boy continued his journey. While he was passing through the village, he saw many people gathering on the field. The boy came closer and saw a stick stuck in the ground. People challenged each other to pull out that stick. Everybody tried, but nobody succeeded. “Can I try?” asked the little boy. The crowd laughed mockingly. The boy wanted to try his luck so he stepped forward and pulled out the stick. He could do it very easily. Everybody was dumbfounded.
Suddenly, from the hole left by stick, water spouted out. It did not stop until it flooded the village. And no one was saved from the water except the little boy and the generous old woman who gave him shelter and meal. As she told him, he used the “lesung” as a boat and picked up the old woman. The whole village became a huge lake. It is now known as Rawa Pening Lake in Salatiga, Central Java, Indonesia.
Source : http://4antum.wordpress.com/2009/12/03/narrative-text-itu/
http://www.englishindo.com/2012/01/narrative-text-penjelasan-contoh.html
Narrative text is a kind of text to retell the story that past tense. The purpose of the text is to entertain or to amuse the readers or listeners about the story.
1. The generic structure of Narrative text :
a. Orientation :
It set the scene and introduce the participants (it answers the question : who, when, what, and where).
b. Complication :
Tells the problems of the story and how the main characters solve them.
c. Resolution :
The crisis is revolved, for better or worse.
d. Re-orientation :
The ending of the story.
e. Evaluation :
The stepping back to evaluate the story or the moral message of the story
2. Linguistic features :
1. Use active verbs.
2. Use past tense.
3. Use conjunction.
4. The first person (I or We) or the third person (He, She, or They).
5. Use specific nouns.
6. Use adjective and adverbs
3. Kind of Narrative text :
1. Legend : Sangkuriang, Malin Kundang, etc.
2. Fable : Mousedeer and crocodile.
3. Fairy tale : Cinderella, Snow white, Pinocchio, etc.
4. Science fiction
Example of Narrative text :
The Legend of Rawa Pening
Once upon a time, there was a little poor boy came into a little village. He was very hungry and weak. He knocked at every door and asked for some food, but nobody cared about him. Nobody wanted to help the little boy.
Finally, a generous woman helped him. She gave him shelter and a meal. When the boy wanted to leave, this old woman gave him a “lesung”, a big wooden mortar for pounding rice. She reminded him, “please remember, if there is a flood you must save yourself. Use this “lesung” as a boat”. The “lesung” was happy and thanked the old woman.The little boy continued his journey. While he was passing through the village, he saw many people gathering on the field. The boy came closer and saw a stick stuck in the ground. People challenged each other to pull out that stick. Everybody tried, but nobody succeeded. “Can I try?” asked the little boy. The crowd laughed mockingly. The boy wanted to try his luck so he stepped forward and pulled out the stick. He could do it very easily. Everybody was dumbfounded.
Suddenly, from the hole left by stick, water spouted out. It did not stop until it flooded the village. And no one was saved from the water except the little boy and the generous old woman who gave him shelter and meal. As she told him, he used the “lesung” as a boat and picked up the old woman. The whole village became a huge lake. It is now known as Rawa Pening Lake in Salatiga, Central Java, Indonesia.
Source : http://4antum.wordpress.com/2009/12/03/narrative-text-itu/
http://www.englishindo.com/2012/01/narrative-text-penjelasan-contoh.html
DESKRIPTIVE TEXT
DESKRIPTIVE TEXT
A descriptive text is a text which lists the characteristics of something.
Take an example, the following is one of the text belongs to the descriptive text.
Prambanan Temple
Prambanan is the largest Hindu temple compound in Central Java in Indonesia, located approximately 18 km east of Yogyakarta.
The temple is a UNESCO World Heritage Site and is one of the largest Hindu temples in south-east Asia. It is characterised by its tall and pointed architecture, typical of Hindu temple architecture, and by the 47m high central building inside a large complex of individual temples.
It was built around 850 CE by either Rakai Pikatan, king of the second Mataram dynasty, or Balitung Maha Sambu, during the Sanjaya Dynasty. Not long after its construction, the temple was abandoned and began to deteriorate. Reconstruction of the compound began in 1918. The main building was completed in around 1953. Much of the original stonework has been stolen and reused at remote construction sites. A temple will only be rebuilt if at least 75% of the original stones are available, and therefore only the foundation walls of most of the smaller shrines are now visible and with no plans for their reconstruction.
The temple was damaged during the earthquake in Java in 2006. Early photos suggest that although the complex appears to be structurally intact, damage is significant. Large pieces of debris, including carvings, were scattered over the ground. The temple has been closed to the public until damage can be fully assessed. The head of Yogyakarta Archaeological Conservation Agency stated that: “it will take months to identify the precise damage”. However, some weeks later in 2006 the site re-opened for visitors. The immediate surroundings of the Hindu temples remain off-limits for safety reasons.
We get the purpose from the text above that description is used in all forms of writing to create a vivid impression of a person, place, object or event e.g. to: •
• Describe a special place and explain why it is special.
• Describe the most important person in your live.
• Describe the animal’s habit in your report.
Descriptive writing or text is usually also used to help writer develop an aspect of their work, e.g. to create a particular mood, atmosphere or describe a place so that the reader can create vivid pictures of characters, places, objects etc. To complete our intention to, here are the characteristics based on descriptive writing or text, below;
As a feature, description is a style of writing which can be useful for other variety of purposes as:
• To engage a reader’s attention
• To create characters
• To set a mood or create an atmosphere
• To being writing to life
While in language function, descriptive writing;
• Aims to show rather than tell the reader what something/someone is like
• Relies on precisely chosen vocabulary with carefully chosen adjectives and adverbs.
• Is focused and concentrates only on the aspects that add something to the main purpose of the description.
• Sensory description-what is heard, seen, smelt, felt, tasted.Precise use of adjectives, similes, metaphors to create images/pictures in the mind e.g. their noses were met with the acrid smell of rotting flesh.
• Strong development of the experience that “put the reader there” focuses on key details, powerful verbs and precise nouns.
Beyond the characteristics stated on, descriptive writing also consists of generic structure in range as:
1. General statement
2. Explanation
3. Closing
The description text has dominant language features as follows:
1. Using Simple Present Tense
2. Using action verbs
3. Using passive voice
4. Using noun phrase
5. Using adverbial phrase
6. Using technical terms
7. Using general and abstract noun
8. Using conjunction of time and cause-effect.
Source : http://ahmadzahrowi.wordpress.com/2009/03/16/descriptive-text/
A descriptive text is a text which lists the characteristics of something.
Take an example, the following is one of the text belongs to the descriptive text.
Prambanan Temple
Prambanan is the largest Hindu temple compound in Central Java in Indonesia, located approximately 18 km east of Yogyakarta.
The temple is a UNESCO World Heritage Site and is one of the largest Hindu temples in south-east Asia. It is characterised by its tall and pointed architecture, typical of Hindu temple architecture, and by the 47m high central building inside a large complex of individual temples.
It was built around 850 CE by either Rakai Pikatan, king of the second Mataram dynasty, or Balitung Maha Sambu, during the Sanjaya Dynasty. Not long after its construction, the temple was abandoned and began to deteriorate. Reconstruction of the compound began in 1918. The main building was completed in around 1953. Much of the original stonework has been stolen and reused at remote construction sites. A temple will only be rebuilt if at least 75% of the original stones are available, and therefore only the foundation walls of most of the smaller shrines are now visible and with no plans for their reconstruction.
The temple was damaged during the earthquake in Java in 2006. Early photos suggest that although the complex appears to be structurally intact, damage is significant. Large pieces of debris, including carvings, were scattered over the ground. The temple has been closed to the public until damage can be fully assessed. The head of Yogyakarta Archaeological Conservation Agency stated that: “it will take months to identify the precise damage”. However, some weeks later in 2006 the site re-opened for visitors. The immediate surroundings of the Hindu temples remain off-limits for safety reasons.
We get the purpose from the text above that description is used in all forms of writing to create a vivid impression of a person, place, object or event e.g. to: •
• Describe a special place and explain why it is special.
• Describe the most important person in your live.
• Describe the animal’s habit in your report.
Descriptive writing or text is usually also used to help writer develop an aspect of their work, e.g. to create a particular mood, atmosphere or describe a place so that the reader can create vivid pictures of characters, places, objects etc. To complete our intention to, here are the characteristics based on descriptive writing or text, below;
As a feature, description is a style of writing which can be useful for other variety of purposes as:
• To engage a reader’s attention
• To create characters
• To set a mood or create an atmosphere
• To being writing to life
While in language function, descriptive writing;
• Aims to show rather than tell the reader what something/someone is like
• Relies on precisely chosen vocabulary with carefully chosen adjectives and adverbs.
• Is focused and concentrates only on the aspects that add something to the main purpose of the description.
• Sensory description-what is heard, seen, smelt, felt, tasted.Precise use of adjectives, similes, metaphors to create images/pictures in the mind e.g. their noses were met with the acrid smell of rotting flesh.
• Strong development of the experience that “put the reader there” focuses on key details, powerful verbs and precise nouns.
Beyond the characteristics stated on, descriptive writing also consists of generic structure in range as:
1. General statement
2. Explanation
3. Closing
The description text has dominant language features as follows:
1. Using Simple Present Tense
2. Using action verbs
3. Using passive voice
4. Using noun phrase
5. Using adverbial phrase
6. Using technical terms
7. Using general and abstract noun
8. Using conjunction of time and cause-effect.
Source : http://ahmadzahrowi.wordpress.com/2009/03/16/descriptive-text/
PROCEDURE TEXT
PROCEDURE TEXT
Prosedural text has different types based on its purpose. They are as follow: Procedure text
Procedure text is a piece of text that gives us instruction for doing something.
The purpose of procedure text type is to explain how something can be done.
The Characteristic of Procedure Text:
Using the simple present tense. Usually in imperative sentences.
Using relative pronoun temporal, likes first, second, then, next, finally
Using action verb, likes turn on, stir, and cook.
The Structure of Procedure Text:
An introductory statement that gives the aim or goal.
A list of materials that will be needed for completing the procedure.
A sequence of steps in the order they need to be done.
The language features usually found in a procedure text:
a) The use of technical language.
b) Sentences that begin with verbs and are stated as commands.
c) The use of time words or numbers that tell the order for doing the procedure.
d) The use of adverbs to tell how the action should be done.
1. Texts that explain how something works or how to use instruction and operation manuals such as how to use the video, the computer, the tape recorder, the photocopier, the fax.
2. Texts that instruct how to do a particular activity eg recipes, rules for games, science experiments, road safety rules.
3. Texts that deal with human behaviour eg how to live happily, how to succeed.
Source : http://aiuholic08.blogspot.com/2009/12/procedure-text-procedure-text-is-piece.html
Example :
PREPARING FRIED INSTANT NOODLE
1. Material and Equipment
a. Fried instant noodle
b. Water 400 cc
c. Stove
d. Bowl
e. Pan
2. Cooking Instructions
a. Boil 400ml (2 glasses) of water in a pan. Add noodle, stir slowly for 3 minutes.
b. While the noodle is being cooked, put the seasoning, sweet soy sauce and chili sauce in a bowl.
c. Take the cooked noodle from the boiling water and drain it.
d. Put the cooked noodle into the bowl with seasoning, sweet soy sauce and chili sauce mix well.
e. Sprinkle fried crispy onion.
Finally the noodle is ready to be served
Prosedural text has different types based on its purpose. They are as follow: Procedure text
Procedure text is a piece of text that gives us instruction for doing something.
The purpose of procedure text type is to explain how something can be done.
The Characteristic of Procedure Text:
Using the simple present tense. Usually in imperative sentences.
Using relative pronoun temporal, likes first, second, then, next, finally
Using action verb, likes turn on, stir, and cook.
The Structure of Procedure Text:
An introductory statement that gives the aim or goal.
A list of materials that will be needed for completing the procedure.
A sequence of steps in the order they need to be done.
The language features usually found in a procedure text:
a) The use of technical language.
b) Sentences that begin with verbs and are stated as commands.
c) The use of time words or numbers that tell the order for doing the procedure.
d) The use of adverbs to tell how the action should be done.
1. Texts that explain how something works or how to use instruction and operation manuals such as how to use the video, the computer, the tape recorder, the photocopier, the fax.
2. Texts that instruct how to do a particular activity eg recipes, rules for games, science experiments, road safety rules.
3. Texts that deal with human behaviour eg how to live happily, how to succeed.
Source : http://aiuholic08.blogspot.com/2009/12/procedure-text-procedure-text-is-piece.html
Example :
PREPARING FRIED INSTANT NOODLE
1. Material and Equipment
a. Fried instant noodle
b. Water 400 cc
c. Stove
d. Bowl
e. Pan
2. Cooking Instructions
a. Boil 400ml (2 glasses) of water in a pan. Add noodle, stir slowly for 3 minutes.
b. While the noodle is being cooked, put the seasoning, sweet soy sauce and chili sauce in a bowl.
c. Take the cooked noodle from the boiling water and drain it.
d. Put the cooked noodle into the bowl with seasoning, sweet soy sauce and chili sauce mix well.
e. Sprinkle fried crispy onion.
Finally the noodle is ready to be served
Maret 24, 2012
PLATYHELMINTHES
Platyhelminthes
Platyhelminthes
Klasifikasi ilmiah
Domain: Eukaryota
Kerajaan: Animalia
Filum: Platyhelminthes
Kelas
• Turbellaria (Turbellaria)
• Trematoda (Trematoda)
• Cestoidea (Cestoda)
• Monogenea (Monogenea)
Platyhelminthes adalah filum dalam Kerajaan Animalia (hewan). Filum ini mencakup semua cacing pipih kecuali Nemertea, yang dulu merupakan salah satu kelas pada Platyhelminthes, yang telah dipisahkan.
CIRI-CIRI
Tubuh pipih dosoventral dan tidak bersegmen. Umumnya, golongan cacing pipih hidup di sungai, danau, laut, atau sebagai parasit di dalam tubuh organisme lain. Cacing golongan ini sangat sensitif terhadap cahaya. Beberapa contoh Platyhelminthes adalah Planaria yang sering ditemukan di balik batuan (panjang 2-3 cm), Bipalium yang hidup di balik lumut lembap (panjang mencapai 60 cm), Clonorchis sinensis, cacing hati, dan cacing pita.
STRUKTUR DAN FUNGSI TUBUH
Platyhelminthes merupakan cacing yang tergolong triploblastik aselomata karena memiliki 3 lapisan embrional yang terdiri dari ektoderma, endoderma, dan mesoderma. Namun, mesoderma cacing ini tidak mengalami spesialisasi sehingga sel-selnya tetap seragam dan tidak membentuk sel
khusus.
SISTEM PENCERNAAN
Sistem pencernaan cacing pipih disebut sistem gastrovaskuler, dimana peredaran makanan tidak melalui darah tetapi oleh usus. Sistem pencernaan cacing pipih dimulai dari mulut, faring, dan dilanjutkan ke kerongkongan. Di belakang kerongkongan ini terdapat usus yang memiliki cabang ke seluruh tubuh. Dengan demikian, selain mencerna makanan, usus juga mengedarkan makanan ke seluruh tubuh.
Selain itu, cacing pipih juga melakukan pembuangan sisa makanan melalui mulut karena tidak memiliki anus. Cacing pipih tidak memiliki sistem transpor karena makanannya diedarkan melalui sistem gastrovaskuler. Sementara itu, gas O2 dan CO2 dikeluarkan dari tubuhnya melalui proses difusi.
SISTEM SYARAF
Ada beberapa macam sistem syaraf pada cacing pipih :
• Sistem syaraf tangga tali merupakan sistem syaraf yang paling sederhana. Pada sistem tersebut, pusat susunan saraf yang disebut sebagai ganglion otak terdapat di bagian kepala dan berjumlah sepasang. Dari kedua ganglion otak tersebut keluar tali saraf sisi yang memanjang di bagian kiri dan kanan tubuh yang dihubungkan dengan serabut saraf melintang. Pada cacing pipih yang lebih tinggi tingkatannya, sistem saraf dapat tersusun dari sel saraf (neuron) yang dibedakan menjadi sel saraf sensori (sel pembawa sinyal dari indera ke otak), sel saraf motor (sel pembawa dari otak ke efektor), dan sel asosiasi (perantara).
INDERA
Beberapa jenis cacing pipih memiliki sistem penginderaan berupa oseli, yaitu bintik mata yang mengandung pigmen peka terhadap cahaya. Bintik mata tersebut biasanya berjumlah sepasang dan terdapat di bagian anterior (kepala). Seluruh cacing pipih memiliki indra meraba dan sel kemoresptor di seluruh tubuhnya. Beberapa spesies juga memiliki indra tambahan berupa aurikula (telinga), statosista (pegatur keseimbangan), dan reoreseptor (organ untuk mengetahui arah aliran sungai). Umumnya, cacing pipih memiliki sistem osmoregulasi yang disebut protonefridia. Sistem ini terdiri dari saluran berpembeluh yang berakhir di sel api. Lubang pengeluaran cairan yang dimilikinya disebut protonefridiofor yang berjumlah sepasang atau lebih. Sedangkan, sisa metabolism tubuhnya dikeluarkan secara difusi melalui dinding sel.
Reproduksi
Cacing pipih dapat bereproduksi secara aseksual dengan membelah diri dan secara seksual dengan perkawinan silang, walaupun hewan ini tergolong hermafrodit.
Klasifikasi
Platyhelminthes dapat dibedakan menjadi 3 kelas, yaitu Turbellaria (cacing bulu getar), Trematoda (cacing hisap), Monogenea, dan Cestoda (cacing pita).
• Kelas Turbellaria merupakan cacing pipih yang menggunakan bulu getar sebagai alat geraknya, contohnya adalah Planaria.
• Kelas Trematoda memiliki alat hisap yang dilengkapi dengan kait untuk melekatkan diri pada inangnya karena golongan ini hidup sebagai parasit pada manusia dan hewan. Beberapa contoh Trematoda adalah Fasciola (cacing hati), Clonorchis, dan Schistosoma
• Kelas Cestoda memiliki kulit yang dilapisi kitin sehingga tidak tercemar oleh enzim di usus inang. Cacing ini merupakan parasit pada hewan, contohnya adalah Taenia solium dan T. saginata Spesies ini menggunakan skoleks untuk menempel pada usus inang. Taenia bereproduksi dengan menggunakan telur yang telah dibuahi dan di dalamnya terkandung larva yang disebut onkosfer
Siklus Hidup Platyhelminthes
a. Fasciola hepatica
Telur (bersama feces) -> larva bersilia (mirasidium) -> siput air (lymnea auricularis atau lymnea javanica) -> sporosista -> redia -> serkaria -> keluar dari tubuh siput -> menempel pada rumput / tanaman air -> membentuk kista (metaserkaria) -> dimakan domba(hepatica)/sapi(gigantica) -> usus -> hati -> sampai dewasa
b. Chlornosis sinensis
Telur (bersama feces) -> mirasidium -> siput air -> sporosista -> menghasilkan redia -> menghasilkan serkaria -> keluar dari tubuh siput -> ikan air tawar (menempel di ototnya) -> membentuk kista (metaserkaria) -> ikan dimakan -> saluran pencernaan -> hati -> sampai dewasa
c. Schistosoma javanicum
Telur (bersama feces) -> mirasidium -> siput air -> sporosista -> menghasilkan redia -> menghasilkan serkaria -> keluar dari tubuh siput -> menembus kulit manusia -> pembuluh darah vena
d. Taenia saginata / Taenia Solium
Proglotid (bersama feces) -> mencemari makanan babi -> babi -> usus babi (telur menetas jadi hexacan) -> aliran darah -> otot/daging (sistiserkus) -> manusia -> usus manusia (sistiserkus pecah -> skolex menempel di dinding usus) -> sampai dewasa di manusia -> keluar bersama feces
Penyakit yang disebabkan Platyhelminthes
Schistosoma mansoni, penyebab Schistosoma pada manusia.
Beberapa spesies Platyhelminthes dapat menimbulkan penyakit pada manusia dan hewan. Salah satu diantaranya adalah genus Schistosoma yang dapat menyebabkan skistosomiasis, penyakit parasit yang ditularkan melalui siput air tawar pada manusia. Apabila cacing tersebut berkembang di tubuh manusia, dapat terjadi kerusakan jaringan dan organ seperti kandung kemih, ureter, hati, limpa, dan ginjal manusia. Kerusakan tersebut disebabkan perkembanganbiakan cacing Schistosoma di dalam tubuh hingga menyebabkan reaksi imunitas. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia. Contoh lainnya adalah Clonorchis sinensis yang menyebabkan infeksi cacing hati pada manusia dan hewan mamalia lainnya. Spesies ini dapat menghisap darah manusia. Pada hewan, infeksi cacing pipih juga dapat ditemukan, misalnya Scutariella didactyla yang menyerang udang jenis Trogocaris dengan cara menghisap cairan tubuh udang tersebut
Platyhelminthes
Klasifikasi ilmiah
Domain: Eukaryota
Kerajaan: Animalia
Filum: Platyhelminthes
Kelas
• Turbellaria (Turbellaria)
• Trematoda (Trematoda)
• Cestoidea (Cestoda)
• Monogenea (Monogenea)
Platyhelminthes adalah filum dalam Kerajaan Animalia (hewan). Filum ini mencakup semua cacing pipih kecuali Nemertea, yang dulu merupakan salah satu kelas pada Platyhelminthes, yang telah dipisahkan.
CIRI-CIRI
Tubuh pipih dosoventral dan tidak bersegmen. Umumnya, golongan cacing pipih hidup di sungai, danau, laut, atau sebagai parasit di dalam tubuh organisme lain. Cacing golongan ini sangat sensitif terhadap cahaya. Beberapa contoh Platyhelminthes adalah Planaria yang sering ditemukan di balik batuan (panjang 2-3 cm), Bipalium yang hidup di balik lumut lembap (panjang mencapai 60 cm), Clonorchis sinensis, cacing hati, dan cacing pita.
STRUKTUR DAN FUNGSI TUBUH
Platyhelminthes merupakan cacing yang tergolong triploblastik aselomata karena memiliki 3 lapisan embrional yang terdiri dari ektoderma, endoderma, dan mesoderma. Namun, mesoderma cacing ini tidak mengalami spesialisasi sehingga sel-selnya tetap seragam dan tidak membentuk sel
khusus.
SISTEM PENCERNAAN
Sistem pencernaan cacing pipih disebut sistem gastrovaskuler, dimana peredaran makanan tidak melalui darah tetapi oleh usus. Sistem pencernaan cacing pipih dimulai dari mulut, faring, dan dilanjutkan ke kerongkongan. Di belakang kerongkongan ini terdapat usus yang memiliki cabang ke seluruh tubuh. Dengan demikian, selain mencerna makanan, usus juga mengedarkan makanan ke seluruh tubuh.
Selain itu, cacing pipih juga melakukan pembuangan sisa makanan melalui mulut karena tidak memiliki anus. Cacing pipih tidak memiliki sistem transpor karena makanannya diedarkan melalui sistem gastrovaskuler. Sementara itu, gas O2 dan CO2 dikeluarkan dari tubuhnya melalui proses difusi.
SISTEM SYARAF
Ada beberapa macam sistem syaraf pada cacing pipih :
• Sistem syaraf tangga tali merupakan sistem syaraf yang paling sederhana. Pada sistem tersebut, pusat susunan saraf yang disebut sebagai ganglion otak terdapat di bagian kepala dan berjumlah sepasang. Dari kedua ganglion otak tersebut keluar tali saraf sisi yang memanjang di bagian kiri dan kanan tubuh yang dihubungkan dengan serabut saraf melintang. Pada cacing pipih yang lebih tinggi tingkatannya, sistem saraf dapat tersusun dari sel saraf (neuron) yang dibedakan menjadi sel saraf sensori (sel pembawa sinyal dari indera ke otak), sel saraf motor (sel pembawa dari otak ke efektor), dan sel asosiasi (perantara).
INDERA
Beberapa jenis cacing pipih memiliki sistem penginderaan berupa oseli, yaitu bintik mata yang mengandung pigmen peka terhadap cahaya. Bintik mata tersebut biasanya berjumlah sepasang dan terdapat di bagian anterior (kepala). Seluruh cacing pipih memiliki indra meraba dan sel kemoresptor di seluruh tubuhnya. Beberapa spesies juga memiliki indra tambahan berupa aurikula (telinga), statosista (pegatur keseimbangan), dan reoreseptor (organ untuk mengetahui arah aliran sungai). Umumnya, cacing pipih memiliki sistem osmoregulasi yang disebut protonefridia. Sistem ini terdiri dari saluran berpembeluh yang berakhir di sel api. Lubang pengeluaran cairan yang dimilikinya disebut protonefridiofor yang berjumlah sepasang atau lebih. Sedangkan, sisa metabolism tubuhnya dikeluarkan secara difusi melalui dinding sel.
Reproduksi
Cacing pipih dapat bereproduksi secara aseksual dengan membelah diri dan secara seksual dengan perkawinan silang, walaupun hewan ini tergolong hermafrodit.
Klasifikasi
Platyhelminthes dapat dibedakan menjadi 3 kelas, yaitu Turbellaria (cacing bulu getar), Trematoda (cacing hisap), Monogenea, dan Cestoda (cacing pita).
• Kelas Turbellaria merupakan cacing pipih yang menggunakan bulu getar sebagai alat geraknya, contohnya adalah Planaria.
• Kelas Trematoda memiliki alat hisap yang dilengkapi dengan kait untuk melekatkan diri pada inangnya karena golongan ini hidup sebagai parasit pada manusia dan hewan. Beberapa contoh Trematoda adalah Fasciola (cacing hati), Clonorchis, dan Schistosoma
• Kelas Cestoda memiliki kulit yang dilapisi kitin sehingga tidak tercemar oleh enzim di usus inang. Cacing ini merupakan parasit pada hewan, contohnya adalah Taenia solium dan T. saginata Spesies ini menggunakan skoleks untuk menempel pada usus inang. Taenia bereproduksi dengan menggunakan telur yang telah dibuahi dan di dalamnya terkandung larva yang disebut onkosfer
Siklus Hidup Platyhelminthes
a. Fasciola hepatica
Telur (bersama feces) -> larva bersilia (mirasidium) -> siput air (lymnea auricularis atau lymnea javanica) -> sporosista -> redia -> serkaria -> keluar dari tubuh siput -> menempel pada rumput / tanaman air -> membentuk kista (metaserkaria) -> dimakan domba(hepatica)/sapi(gigantica) -> usus -> hati -> sampai dewasa
b. Chlornosis sinensis
Telur (bersama feces) -> mirasidium -> siput air -> sporosista -> menghasilkan redia -> menghasilkan serkaria -> keluar dari tubuh siput -> ikan air tawar (menempel di ototnya) -> membentuk kista (metaserkaria) -> ikan dimakan -> saluran pencernaan -> hati -> sampai dewasa
c. Schistosoma javanicum
Telur (bersama feces) -> mirasidium -> siput air -> sporosista -> menghasilkan redia -> menghasilkan serkaria -> keluar dari tubuh siput -> menembus kulit manusia -> pembuluh darah vena
d. Taenia saginata / Taenia Solium
Proglotid (bersama feces) -> mencemari makanan babi -> babi -> usus babi (telur menetas jadi hexacan) -> aliran darah -> otot/daging (sistiserkus) -> manusia -> usus manusia (sistiserkus pecah -> skolex menempel di dinding usus) -> sampai dewasa di manusia -> keluar bersama feces
Penyakit yang disebabkan Platyhelminthes
Schistosoma mansoni, penyebab Schistosoma pada manusia.
Beberapa spesies Platyhelminthes dapat menimbulkan penyakit pada manusia dan hewan. Salah satu diantaranya adalah genus Schistosoma yang dapat menyebabkan skistosomiasis, penyakit parasit yang ditularkan melalui siput air tawar pada manusia. Apabila cacing tersebut berkembang di tubuh manusia, dapat terjadi kerusakan jaringan dan organ seperti kandung kemih, ureter, hati, limpa, dan ginjal manusia. Kerusakan tersebut disebabkan perkembanganbiakan cacing Schistosoma di dalam tubuh hingga menyebabkan reaksi imunitas. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia. Contoh lainnya adalah Clonorchis sinensis yang menyebabkan infeksi cacing hati pada manusia dan hewan mamalia lainnya. Spesies ini dapat menghisap darah manusia. Pada hewan, infeksi cacing pipih juga dapat ditemukan, misalnya Scutariella didactyla yang menyerang udang jenis Trogocaris dengan cara menghisap cairan tubuh udang tersebut
Langganan:
Komentar (Atom)










